Berteman dengan seorang Penjual Bubur Ayam


             Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita dengan kalian semua mengenai pengalaman yang baru saja saya alami malam ini. Malam ini saya baru saja mendapat teman baru. Ya, seorang teman baru yang baru saja saya kenal. Teman baru saya ini bukan seorang yang kaya, pintar, menguasai berbagai bidang, ataupun memiliki talenta luar biasa. Dia juga bukan orang muda yang seumuran dengan saya ataupun lebih muda dari saya. Dia adalah seorang bapak paruh baya yang pekerjaan sehari-harinya adalah menjual bubur. Entah ada angin apa yang dapat membuat saya untuk memulai pembicaraan dengan si bapak. Pada awalnya ketika saya datang ke warungnya, si bapak dengan sigap menyiapkan bubur ayam pesanan saya dan tidak sampai lima menit bubur ayam tersebut telah tersaji di depan saya. Saya pun makan dengan lahap, karena kebetulan saya sedang sangat lapar dan udara pada saat itu sedang dingin-dinginnya. Kemudian, dimulailah perbincangan kami di mana waktu itu sedang tidak ada seorang pun pengunjung selain saya. Saya pun memulai perbincangan dari berapa lama si bapak berjualan bubur ayam. Di sela-sela makan, saya menyempatkan bertanya kepada si bapak seputar usahanya dan keluarganya. Kemudian, posisi si bapak pun berubah, yang mana tadinya berada di belakang saya menjadi sejajar dengan saya agar perbincangan terasa lebih akrab. Si bapak duduk di belakang saya karena merasa tidak ada urusan dengan saya dan si bapak mungkin mengira keperluan saya cuma makan di warungnya dan kemudian pergi, hanya sebatas itu hubungan antara penjual dan pembeli. Si bapak pun kelihatannya merasa kesepian di warung itu walaupun warungnya berada di pinggir jalan raya, terlihat tidak ada keinginan untuk menyapa saya karena mungkin takut akan mengganggu saya dengan ajakannya untuk mengobrol. Namun, anggapan si bapak ternyata salah, karena saya malah mengajak ngobrol. Walaupun saya sudah selesai makan, saya masih melanjutkan obrolan. Si bapak pun bercerita panjang lebar dalam menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan. Saya menanyakan berbagai macam hal, mulai dari keluarganya, mengenai usaha bubur ayam itu sendiri, suka-dukanya selama berjualan, dan lain-lain sampai-sampai si bapak sedikit curhat mengenai kejadian-kejadian apa saja yang sudah pernah dialaminya.
             Pada waktu itu, saya seperti sedang melakukan wawancara secara tidak langsung dengan bapak itu. Tetapi, bapak itu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya dengan biasa saja dan memang seperti ingin mengutarakan hal-hal tersebut, karena yang saya lihat si bapak kesepian karena tidak ada teman ngobrol saat si bapak berjualan pada malam hari itu, karena memang rata-rata yang berkunjung ke warungnya hanya untuk sekedar makan dan kemudian pergi, ditambah lagi keadaan di sekitar warungnya sudah banyak toko-toko yang tutup, jadi tidak ada rekan sejawat yang sama-sama menjalankan usaha kuliner. Kemudian, dari obrolan tersebut saya mendapatkan banyak hal, mulai dari perjuangan si bapak dalam menjalankan usahanya yang mana persiapan yang dilakukan memakan waktu yang cukup lama, yaitu 3-4 jam sebelum berangkat dari rumah untuk berjualan sehari-harinya, sedangkan dalam sehari si bapak jualannya 2 kali dari jam 6 pagi sampai siang, kemudian yang kedua dari jam setengah 5 sore sampai jam 11 malam. Bisa kita bayangkan seberapa paginya si bapak harus bangun kemudian menyiapkan semuanya demi dapat menjual bubur ayam guna menghidupi kehidupan sehari-hari keluarganya. Lalu, saya pun kembali bertanya mengenai jualannya akan diapakan ketika masih bersisa. Si bapak pun menjawab bahwa jualannya, yaitu bubur akan dibuang dan itu biasanya terjadi pada saat malam hari karena para tetangga sudah pada tidur dan ketika sisa bubur itu dicampur dengan bubur yang baru pada keesokan paginya, rasanya akan menjadi berbeda dan tidak enak. Maka dari itu, si bapak memutuskan untuk membuang bubur yang masih bersisai itu, lain halnya jika buburnya masih bersisa pada saat siang, karena ada tetangga yang biasanya meminta bubur yang dibuat si bapak. Saya pun melanjutkan pertanyaan dengan menanyakan tentang penghasilan yang diperoleh si bapak dalam berjualan, apakah si bapak juga sempat menabung juga. Si bapak pun menjawab bahwa penghasilan yang diperoleh sudah cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarganya sehari-hari, tetapi kalau soal menabung si bapak belum pernah melakukannya walaupun si bapak juga bilang bahwa untuk menyisihkan 5000 atau 10000 setiap hari yang lama-lama menjadi banyak juga bisa. Kemudian, mengenai usaha yang dijalankan si bapak, sehari-harinya tidak mengalami masalah, seperti tidak ada pungli, orang-orang yang tidak bayar, ataupun orang-orang yang mabuk yang memalak si bapak. Malahan, si bapak mendapat kenalan polisi yang siap untuk menindaklanjuti setiap kejadian buruk yang menimpanya. Setelah mengobrol cukup panjang, saya pun memutuskan untuk mengakhirinya. Kemudian, saya pun membayar bubur ayam yang saya makan ditambah minuman yang saya pesan juga. Saya mengeluarkan uang pecahan 50 ribu, tetapi si bapak bilang tidak ada kembalian, dan meminta saya untuk memberikan pecahan yang lebih kecil. Akhirnya saya tunjukkan uang pecahan sepuluh ribu, di mana total biaya yang harus saya bayarkan adalah 12500. Kemudian, tanpa pikir panjang si bapak pun menerima uang saya dan bilang tidak apa-apa kalau saya hanya membayar sepuluh ribu saja dan membayar sisanya di kemudian hari jika saya mampir ke warungnya lagi. Mendengar hal itu pun saya menjadi berpikir untuk menukarkan uang 50 ribu yang saya miliki tadi dengan membelanjakan uang tersebut terlebih dahulu. Dan akhirnya, saya kembali lagi dengan membayar sisa biaya yang harus saya bayarkan, tetapi si bapak malah mengurangi biaya yang harusnya saya bayar 2500 menjadi hanya 2000 saja. Lagi-lagi si bapak mencoba untuk berbaik hati kepada saya dengan mengurangi biaya yang harus saya bayar, tetapi karena saya tahu bagaimana perjuangan si bapak dalam menjalani kehidupan sehari-harinya saya pun tetap tidak mau menerima pengurangan biaya yang dilakukan dan tetap membayar seluruh jumlah biayanya.
             Dari apa yang saya alami itu, saya akhirnya mengerti beberapa hal. Pertama, saya mengerti bahwa si bapak berjualan dengan sabar dan ikhlas yang membuatnya lancar dalam menjalankan usahanya, ditambah lagi si bapak tidak mau melakukan kecurangan yang dapat merugikan konsumen seperti mencampur bubur yang masih bersisa dengan yang baru untuk menekan biaya produksi sehingga akan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih, selain itu rasanya juga menjadi tidak enak dan dampaknya adalah dapat berkurangnya konsumen. Kedua, dengan adanya contoh pengusaha seperti si bapak yang masih mengelola usahanya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari padahal jika dapat dikelola dengan baik dapat menjadi lebih maju mencerminkan keadaan pengusaha Indonesia yang tidak maju dan usahanya hanya akan berada pada tingakatan yang sama karena tidak memiliki rencana di masa yang akan datang akan menjadi seperti apa. Padahal, jika mereka mau, maka pengusaha-pengusaha asli Indonesia dapat bersaing dengan pengusaha-pengusaha asing dalam menjalankan usaha mereka. Ketiga, saya mengerti bahwa investasi yang dilakukan oleh si bapak adalah intangible atau tidak kelihatan yang berupa kebahagiaan, karena berdasarkan jawaban yang diberikan oleh si bapak, si bapak lebih memilih untuk sering-sering bertemu dengan keluarganya yang ada di kampung. Dengan seringnya si bapak pulang kampung, maka hubungan si bapak dengan sanak familinya akan semakin erat dan hal itu tidak dapat digantikan dengan uang. Keempat, saya lebih menyadari bahwa dalam bergaul jangan batasi diri kita hanya pada hal-hal yang kita senangi saja atau dengan frekuensi yang sama dengan kita, karena di luar sana ada hal-hal yang akan membuat kita dapat belajar kehidupan melalui sudut pandang yang berbeda dan tentunya kita akan mendapatkan relasi baru yang suatu saat nanti mungkin dapat membantu kita dalam keadaan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Namun, bukan berarti kita bebas bergaul dengan siapa saja, karena ada pergaulan yang tidak baik bagi sebagian dari kita seperti pergaulan bebas ataupun hal-hal yang melanggar hukum lainnya. Kelima, spontanitas merupakan salah satu cara efektif untuk mengetahui sifat dan pribadi seseorang. Hal itu seperti yang saya lakukan kepada si bapak, ketika saya mengetes seperti apa sebenarnya si bapak, apakah memang seperti yang sudah ditunjukkannya melalui obrolan yang kami lakukan atau nggak. Meskipun begitu, terkadang kita menjumpai orang-orang yang dapat berpikir dengan cepat dan bisa saja menipu penilaian yang kita lakukan dengan terus berakting seperti yang kita duga sejak awal. Sekian dulu pengalaman dan pelajaran yang dapat saya ceritakan, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah saya bagi kepada kalian.

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar